Lompat ke konten
Selamat Membaca Harga Emas Bergejolak, Investor Pilih Tahan Aset Meski Sempat Tembus Rp3 Juta per Gram

Harga Emas Bergejolak, Investor Pilih Tahan Aset Meski Sempat Tembus Rp3 Juta per Gram

JAKARTA – Pergerakan harga emas yang naik turun secara tajam dalam beberapa bulan terakhir memengaruhi strategi para investor. Meski demikian, kondisi tersebut belum mendorong sebagian pemilik emas untuk melepas aset yang telah mereka kumpulkan.

Salah satu investor emas, Annasa Rizki, mengaku portofolionya sempat mengalami peningkatan signifikan ketika harga emas menembus level Rp3 juta per gram. Namun menurutnya, pergerakan harga emas sepanjang tahun 2026 berlangsung sangat cepat dan sulit diprediksi.

“Fluktuasinya benar-benar cepat sekali akhir-akhir ini. Sepanjang tahun ini portofolio sempat naik ketika harga emas tembus Rp3 juta per gram, tetapi saya sudah lupa persentase kenaikannya,” ujar Annasa, Minggu (14/6/2026).

Meski masih tertarik berinvestasi emas, Annasa memutuskan menghentikan sementara pembelian emas baru karena memiliki kebutuhan finansial lain yang lebih mendesak.

Ia bahkan berencana mengalihkan sebagian dana investasinya ke instrumen lain seperti saham. Namun demikian, Annasa belum memiliki keinginan untuk menjual emas yang sudah dimilikinya.

Menurutnya, menjual emas saat ini justru berisiko apabila harga kembali melonjak ketika dirinya membutuhkan aset lindung nilai tersebut.

“Sempat berpikir untuk menjual, tetapi akhirnya memilih menyimpan dulu. Sayang kalau dijual sekarang. Kalau nanti butuh dan harga kembali naik, tentu akan lebih sulit membeli lagi. Jadi untuk sementara saya hanya berhenti menambah investasi emas,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan investor lainnya, Erlinda Puspita. Baginya, emas bukan sekadar instrumen investasi, melainkan sarana menjaga nilai kekayaan dari tekanan inflasi.

Menurut Erlinda, emas memiliki fungsi seperti tabungan jangka panjang yang nilainya cenderung lebih stabil dibandingkan menyimpan uang tunai dalam bentuk rupiah.

“Kalau buat saya, emas itu seperti menabung. Bedanya dalam bentuk logam mulia yang nilainya relatif tetap terjaga dan tidak tergerus inflasi seperti uang tunai,” ujarnya.

Meski harga emas mengalami koreksi setelah sempat mencetak rekor tertinggi, Erlinda mengaku tetap konsisten menabung emas secara bertahap.

Ia menilai investasi emas memang ditujukan untuk jangka panjang sehingga fluktuasi harga harian tidak terlalu memengaruhi keputusan investasinya.

“Sampai sekarang portofolio saya masih aman. Salah satu alasannya karena saya tidak membeli saat harga sedang berada di puncak,” katanya.

Berdasarkan data harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam), harga logam mulia sempat mencetak rekor tertinggi sebesar Rp3.135.000 per gram pada perdagangan awal Maret 2026. Namun pada pertengahan Juni 2026, harga emas terkoreksi ke level Rp2.711.000 per gram.

Meski mengalami penurunan dari level tertinggi, banyak investor masih memandang emas sebagai instrumen investasi yang aman untuk jangka panjang, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan potensi tekanan inflasi yang masih membayangi pasar keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *