Lompat ke konten
Selamat Membaca Misteri 77 Kerangka Tanpa Kepala di Slovakia Terungkap, Diduga Bagian Ritual Kuno 7.000 Tahun Lalu

Misteri 77 Kerangka Tanpa Kepala di Slovakia Terungkap, Diduga Bagian Ritual Kuno 7.000 Tahun Lalu

SLOVAKIA – Temuan mengejutkan datang dari situs arkeologi Vráble di Slovakia. Para arkeolog menemukan puluhan kerangka manusia tanpa kepala yang diperkirakan berasal dari Zaman Batu Baru atau sekitar 7.000 tahun lalu.

Meski pada sejumlah tulang ditemukan bekas sayatan yang menunjukkan proses pemenggalan, para peneliti meyakini individu-individu tersebut bukan korban pembantaian massal. Sebaliknya, pemisahan kepala diduga merupakan bagian dari ritual pemakaman masyarakat Neolitik.

Situs Vráble diketahui pernah dihuni oleh masyarakat budaya Linear Pottery (LBK) antara tahun 5250 hingga 4950 SM. Kelompok ini dikenal sebagai salah satu komunitas petani awal di Eropa Tengah yang menghasilkan tembikar bercorak garis-garis khas.

Sisa jasad manusia tanpa kepala yang ditemukan di sebuah parit di Slovakia. Foto: Cambridge University/K. Furholt
Sisa jasad manusia tanpa kepala yang ditemukan di sebuah parit di Slovakia. Foto: Cambridge University/K. Furholt

Dalam penggalian yang dimulai pada 2022, tim arkeolog menemukan empat pasang kerangka tanpa kepala dan sebuah kuburan massal berisi sedikitnya 77 kerangka tanpa kepala. Menariknya, hanya satu kerangka yang ditemukan masih memiliki kepala, yaitu milik seorang anak.

Temuan awal tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the Prehistoric Society pada 2 Juni 2026.

“Analisis awal menunjukkan bahwa yang terjadi di sini bukan pemenggalan secara brutal, melainkan proses pelepasan tengkorak yang dilakukan dengan sangat terampil,” ujar Katharina Fuchs, antropolog biologis dari University of Kiel, Jerman.

Penelitian terhadap ruas tulang leher menunjukkan adanya bekas sayatan dari alat tajam yang digunakan untuk memisahkan tengkorak. Selain itu, rahang bawah seluruh individu juga tidak ditemukan.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kepala dan wajah kemungkinan memiliki makna simbolis yang sangat penting bagi masyarakat saat itu.

Para peneliti menduga jasad-jasad tersebut ditempatkan di dalam parit setelah kepala mereka dilepas. Praktik tersebut diyakini merupakan bagian dari ritual kematian yang dilakukan secara berulang dan memiliki makna sosial maupun spiritual.

“Penempatan tubuh dan bagian tubuh kemungkinan merupakan bagian dari praktik yang lebih kompleks, bermakna, dan dilakukan berulang,” kata arkeolog University of Kiel, Nils Müller-Scheeßel.

Penampakan kerangka manusia tanpa kepala yang ditemukan di sebuah parit di Slovakia. Foto: Cambridge University/K. Fuchs, T. Kühl, N. Müller-Scheeßel
Penampakan kerangka manusia tanpa kepala yang ditemukan di sebuah parit di Slovakia. Foto: Cambridge University/K. Fuchs, T. Kühl, N. Müller-Scheeßel

Praktik serupa sebenarnya pernah ditemukan di sejumlah situs Neolitik lainnya di Eropa dan Timur Tengah. Di Jericho, misalnya, tengkorak leluhur dilapisi plester untuk membentuk wajah sebelum dipajang sebagai bagian dari tradisi penghormatan kepada nenek moyang.

Namun, yang membedakan situs Vráble adalah belum ditemukannya satu pun tengkorak dari puluhan kerangka tersebut.

“Untuk saat ini, kepala-kepala tersebut secara arkeologis masih tak terlihat bagi kami,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Selain kemungkinan ritual pemakaman, para peneliti juga membuka peluang adanya konflik sosial antarpermukiman di kawasan tersebut. Dugaan ini muncul karena hanya satu kawasan yang dilindungi sistem parit dan pintu masuk yang menghadap menjauh dari dua permukiman lainnya.

Meski demikian, hingga kini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa individu-individu tersebut meninggal akibat kekerasan.

Penggalian dan penelitian lanjutan masih terus dilakukan untuk mengungkap misteri di balik puluhan kerangka tanpa kepala tersebut.

“Temuan awal ini sudah menunjukkan bahwa Vráble adalah situs penggalian yang luar biasa. Tempat ini membantu kita memahami bagaimana manusia Neolitik memandang kematian, tubuh, dan hubungan sosial dalam komunitas mereka,” ujar Martin Furholt, penulis utama penelitian.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *